Saung Kuring

Wilujeung Sumping Di Saung Urang Maparah

Ust. Abu Sangkan menjawab atas Fitnah Abu Umamah

Jawaban Ust. Abu Sangkan Atas Pitnah Abu Umamah
Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Asyhadu an laa ilaha illa Allah wa asy hadu anna Muhammadarrasululla h

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad

Dewasa ini saya sering tidak menangapi ulasan-ulasan saudara sesama muslim mengenai mengenai ajaran shalat khusyu’ dan karya-karya saya berupa buku-buku yang saya tulis. Terkadang terasa tidak adil dan tidak bijak, karena didalam mengulas karya-karya buku saya dibutuhkan pemikir an yang baik.

Namun saya berbesar hati didalam menanggapi hal ini, asalkan tidak menjadi sebuah permusuhan yang mengarah kepada perpecahan. Persoalan ini karena perbedaan persepsi dan pemahaman saja. Saya dapat memakluminya, karena ini terjadi akibat latar belakang ilmu dan pengalaman, serta kedewasan sebagai orang Islam. Saya sangat senang dan terbuka dengan adanya bantahan dan tanggapan, terlebih kalau dilakukan dalam forum diskusi yang diselengarakan didepan publik. Melalui cara itu, mereka akan mendapatkan informasi yang lebih lengkap dan jelas dari sebuah pemaparan, karena bahasa tulisan terkadang kurang mewakili dari maksud yang dikandung.

Namun demikian saya tetap akan memberikan tanggapan ringan saja, buat pembaca buku-buku saya, terutama kepada saudara Abu Umamah yang dengan semangat mengecam dan menganggap sesat karya-karya saya. Saya hanya mengharap kepada Abu Umamah, tetap teguh berjuang menegakkan keadilan. Saya salut terhadap beliau, karena semangatnya dalam memurnikan ajaran Islam dengan gigih, meskipun terkadang kurang pandai mengemas dengan akhlak yang baik.

Saya sangat faham mazhab yang dianut Abu Umamah yang menyebutnya dirinya sebagai Ahli Sunnah Waljama’ah atau seorang salafi. Karena saya juga pernah belajar hal serupa sehingga saya bisa mengerti kemana arah pemikiran dan manhaj-nya. Pertentangan ini bukan hal yang baru bagi saya dan umat Islam telah mengalaminya selama berabad-abad. Ini hanya berganti generasi saja. Misinya cukup simple, yaitu memberantas TBC, yaitu tahayyul, bid’ah dan churafat (baca: khurafat).

Pertentangan ini bukan hal yang baru terjadi didunia Islam. Sejarah telah mencatat munculnya pertentangan yang terjadi di Indonesia seperti kaum Nahdhiyyin (KH Hasyim Asy ‘ari) dan kelompok Muhammadiyah (KH. Ahmad Dahlan) maupun dari Persis (A. Hasan). Persoalan yang dianggap bid’ah seperti qunnut, yasinan, tahlilan, baca barzanji, baca shalawat nabi dan lain sebagainya, adalah topik utama mereka. Namun perkembangan sekarang ketiga kelompok tersebut sudah terlihat saling menghormati setelah informasi semakin canggih.

Saya masih ingat pada waktu kecil, kaum Muhammadiyyah membid’ahkan kaum Nahdhiyyin (NU) shalat tarawih 23 rakaat, sedangkan kaum Muhammadiyyah 11 rakaat. Namun sekarang sudah tidak menjadi masalah, karena di Saudi Arabiyyah melakukan 23 rakaat. Demikian juga persoalan adzan Jum’at yang dilakukan oleh Nahdhiyyin dua kali adzan sedangkan kaum Muhammadiyyah satu kali adzan. Ternyata di Saudi Arabiyyah melakukan dua kali adzan. Padahal Nabi melakukan shalat tarawih dimasjid hanya 3 hari, selebihnya dilakukan dirumah.

Dan yang uniknya lagi, imam Masjidil Haram membaca qunnut didalam akhir Ramadhan namun diselipkan doa-doa yang tidak berasal dari Nabi, terbukti ia menyebutkan kata-kata Allahumma dammir Amerika, Israil. Padahal didalam ibadah tidak boleh menambah-nambah ibadah yang tidak diajarkan oleh Nabi. Demikian juga doa-doa dalam tawaf, tenyata banyak yang dibuat oleh para ulama’, padahal tawaf adalah peribadatan yang ditetapkan sunnahnya. Dan orang-orang Saudi menggunakan alat dzikirnya meniru orang-orang Budha dan Katolik (rosario), yaitu biji tasbih made in China.

Dan mengenai penyusunan mushaf Al qur’an, awalnya para sahabat mengalami perdebatan keras, terutama Zaid sekretaris Nabi. Karena Nabi tidak memerintahkan membukukan Al qur’an yang berserakan dan tertulis di pelepah korma, kulit kambing dan lain sebagainya.

Tuduhan-Tuduhan Abu Umamah

Saya sangat mengenal konsep pemikiran Abu Umamah dalam melancarkan setiap tuduhan-tuduhan yang berbeda pandangan dengan dia. Saya kira dia hanya kurang faham mengenai pemaparan buku-buku saya, karena memang harus memilki ilmu pendukung untuk mampu memahami karya saya.

Didalam memahami tanggapan tulisan-tulisan saya, harus siap membuka hati dan pikiran. Dibutuhkan kejujuran dan kebersihan hati, bukan dilandasi karena emosi dan kebencian. Watawa saubil haq watawa saubish shabri …

Walaupun saya belajar ilmu tasawuf, tapi saya bukanlah orang tasawuf. Walaupun saya belajar ilmu salafi, tetapi saya bukanlah orang salafi. Walaupun saya belajar ilmu filsafat, tetapi saya juga bukan orang filsafat. Walaupun saya belajar ilmu meditasi tetapi saya menolak meditasi. Saya hanyalah orang biasa yang menjalankan shalat lima waktu, bersyahadat, berzakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah Haji ke Baitullah. Bagi saya ini sudah cukup dan tidak keluar dari ajaran Islam. Adapun kekurangan didalam menjalankan syariat, saya berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhinya sehingga tidak ada kata berhenti untuk belajar. Termasuk saya pun mempelajari cara berfikir Abu Umamah, tapi saya tidak akan seperti Abu Umamah.

Abu Umamah menuduh Saya sebagai Pencipta Ajaran Shalat.

Hal ini jauh dari kenyataan. Seharusnya saya sudah diusir dari masjid-masjid besar kalau benar-benar saya menyimpang. Padahal saya mengadakan pelatihan shalat di adakakan di halayak ramai, bukan ditempat yang tersembunyi. Bahkan saya sudah memberikan pemaparan shalat khusyu’ dihadapan MUI Banjarmasin, Singapura, Hongkong, Jepang, Malaysia, Australia, dan seluruh Indonesia. Dan alhamdulillah mereka setuju dengan konsep pengajaran yang dilandasi syariat yang kuat. Karena Abu Sangkan tidak merubah shalat yang sudah menjadi hukum mahdhah. Justru saya mengajak untuk mengahayati setiap gerakan dan bacaan dalam shalat, seperti meluruskan punggung ketika ruku’, berdiri tuma’ninah, sujud sempurna. Seluruh metode, saya ambil dari cara Rasulullah mengajarkan shalat kepada para sahabat . Pada waktu itu, Nabi selalu menegur langsung ketika sujudnya terlalu cepat seperti burung mematuk makanan. Semuanya saya latih diluar shalat, sebagaimana umumnya orang memiliki metode membaca Al qur’an.

Mungkin, Abu Umamah terganggu dengan istilah “meditasi”, sehingga ia mengira saya memasukkan unsur meditasi dalam shalat. Padahal istilah meditasi itu bukan ajaran agama Hindu. Kata meditasi itu sendiri berasal dari bahasa Inggris, bukan bahasa India, yang berarti berdoa (praying), atau menenangkan pikiran. Sedangkan kata atau istilah berdo’a, beribadah, beriman dan lain sebagainya, telah menjadi dan digunakan oleh agama-agama lain di Indonesia. Hal ini tidak bisa dipungkiri kenyataannya.

Dari sisi marketing, buku shalat khusyu diminati orang-orang yang belum shalat, karena ada kata meditasi. Hal ini terinspirasi oleh ulama di Jawa masa Wali Songo yang mengganti kata “shalat” dengan “sembahyang”, untuk menarik minat agar orang-orang Hindu ikut sembahyang (shalat) di masjid. Dan dihalaman masjd, dibuat pintu masuk berupa gapura yang berasal dari kata “pura” (tempat sembahyang orang Hindu). Namun maknanya diganti menjadi ghafura dari bahasa Arab, yang berarti pengampunan (jawa: ngapura). Dan lihatlah bangunan masjid di Demak dan masjid-masid di Jawa terlihat kental dengan unsur arsitektur Hindunya.

Kata “meditasi” sama dengan kata “spiritual” yang sering dugunakan orang-orang Islam. Karena bahasa tidak bisa diklaim oleh salah satu agama saja. Sama halnya ketika anda melihat bangunan gedung pemerintahan di Kremlin yang menggunakan kubah dan menara masjid. Kalau orang tidak tahu, pasti terkecoh dikira masjid. Atau malah sebenarnya terbalik, kubah dan menara bukanlah hasil karya arsitek muslim. Karena gereja-gereja pada masa Konstantinopel sudah menggunakan kubah. Yang paling unik adalah kata “menara” ternyata berasal dari kata “naarun”, yang berarti api. Sedangkan menara dulunya adalah tempat api persembahyangan kaum Majusi.

Apakah seseorang dilarang, jika sebelum shalat melatih diri untuk belajar berdiri dengan tenang ketika shalat? Menenangkan pikiran agar tidak ngelantur kemana-mana. Padahal saat shalat, kita sedang berhadapan dengan sang Khalik. Berarti kesadaran jiwa dan pikiran harus terfokus kepada yang disembah, yaitu Allah. Sedangkan orang Budha terfokus kepada sang Bodha Gautama, orang Kristiani terfokus kepada Yesus Kristus.

Perhatian saya dalam pelatihan shalat khusyu adalah agar bagaimana hati dan pikiran selalu berhubungan dengan Allah, bukan kepada selain Allah. Termasuk melatih agar tidak mudah melamun. Kenyataan ini telah menjadi keluhan hampir seluruh masyarakat Islam. Mengapa Abu Umamah hanya mementingkan segi fisik saja, sementara ruhiyah diabaikan. Padahal Allah hanya menerima shalat seseorang dilandasi keikhlasan (mukhlishina lahu addien). Sebagaimana kisah orang Arab Badui yang mengaku beriman, ternyata baru sampai kulit luarnya saja, sehingga Allah menurunkan ayat berikut ini :

Dan orang-orang Arab Badui berkata: Kami telah beriman, katakanlah (kepada mereka) kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami tunduk, karena iman itu belum masuk kedalam hatimu (QS. Al Hujuraat,49: 14)

Dan sebuah hadist menegaskan :

Anta’buda ka annaka tarahu fainlam takun tarahu fa innahu yaraka

Beribadahlah seolah engkau melihat Allah, kalau engkau tidak mampu melihat Nya, sesungguhnya Dia melihat engkau ( Al hadist shahih ).

Dan Allah melarang shalat seperti shalatnya orang-orang munafik, karena dilakukan dengan perasaan malas dan pikirannya tidak terfokus kepada Allah kecuali hanya sedikit. Mereka shalat karena dilandasi ingin dilihat orang lain (riya’). Perbuatan riya’ dan munafik itu adanya dihati, karena ternyata orang munafik juga shalat

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah,dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali hanya sedikit (QS. An Nisa,4:142)

Abu Umamah hanya kurang peka terhadap tulisan-tulisan saya dalam menyampaikan hadist-hadist yang saya uraikan dalam bentuk praktek. Dikira saya mengarang shalat kreasi baru. Terbukti jamaah saya shalat dimana-mana tidak ada yang aneh. Dan saya pun telah menjadi imam shalat dihadapan ribuan jamaah, namun mereka tidak ada yang protes. Seandainya Abu Umamah bisa menyempatkan shalat berjamaah dengan saya, pasti tidak akan terjadi perdebatan seperti ini. Tetapi tidak apa-apa, insya Allah suatu waktu akan berjumpa dalam shalat bersama.

Kesimpulan dari persoalan pelatihan shalat khusyu’. Selama tidak ada larangan dari Nabi, berarti kebolehan. Yang dilarang adalah merubah syariat shalat. Termasuk bacaan shalat dirubah menjadi bahasa Indonesia, seperti yang dilakukan oleh Yusman Roy dari Malang (Perdebatan via Teleconference antara Abu Sangkan dengan Yusman Roy di Metro TV).

Ditegaskan disini, shalat diawali dengan niat lalu takbir sampai salam. Diluar itu bukanlah shalat. Maka kegiatan pelatihan shalat bukanlah shalat, tetapi hanya latihan. Bagaimana menurut Anda, sebelum memasuki takbir, bolehkan kita melakukan kegiatan oleh raga, tertawa, atau baca buku? Atau setelah menyelesaikan salam, bolehkan kita melakukan kegiatan gerakan-gerakan bebas seperti melompat dan berlari. Selama itu tidak dilakukan didalam shalat, maka itu bebas (boleh) bukan mengada-mengada soal agama. Tetapi kalau kegiatan itu dilakukan didalam shalat, maka itu bid’ah. Semoga Abu Umamah memahami arti bid’ah dalam beribadah.

Tuduhan bahwa Abu Sangkan Penganut Wihdatul Wujud

Didalam buku saya “Berguru Kepada Allah”. Pada bab misteri Al hallaj, saya justru meluruskan ajaran Al hallaj yang kurang sempurna. Karena Al Hallaj tidak mampu melepaskan kesadarannya, sehingga tidak bisa membedakan mana Allah dan mana dirinya. Inilah yang dinamakan ittihad (penyatuan). Kesimpulan saya pada bab ini, adalah manusia pada awalnya tidak ada dan akan kembali tidak ada. Yang kekal hanyalah Allah semata. Kullu man ‘alaiha faan …. wa yabqa dzul jalali wal ikram … Apakah ayat ini ada yang salah?. Siapakah sebenarnya yang kekal abadi ?. Namun kalau difahami dengan benar, saya sependapat dengan pejelasan Imam Al ghazaly, bahwa Al hallaj tidak mengaku Allah. Dia hanya membaca ayat yang berbunyi :

innani Ana Allah laa ilha illa ana fa’budnii ….

Sungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang Haq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.(QS. Thaha 20:14)

Wallahu a’lam.

Saya hanya menganggap Abu Umamah khilaf dan kurang teliti membaca bab ini. Pikirannya terlalu dipenuhi kecurigaan dan hatinya bergejolak kurang tenang. Dan ilmu tidak akan bisa masuk kepada orang yang hatinya tidak dipenuhi cahaya Ilahy.

Pada bab-bab sebelumnya, banyak ayat-ayat mutasyabihat yang saya kutip. Dan saya tidak berani menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan pikiran saya. Saya hanya membiarkan ayat-ayat mutasyabihat tersebut apa adanya, seperti kalimat yadullah (kedua tangan-Ku). Melihat uraian ini, Abu Umamah tidak faham. Dikira saya membuat pernyataan “mentashbihkan” (menyerupakan) Allah dengan tangan manusia. Sama sekali tidak !! Ayat-ayat mutasyabihat hanya bisa difahami oleh hati orang yang bertakwa. Alif laam mim … dzalikal kitabu laa raiba fiihi hudan lil muttaqien …. Tidak ada satu dalilpun yang mengatakan, bahwa para sahabat menanyakan arti ayat-ayat mutasyabihat kepada Rasulullah dan Beliau tidak memberikan tafsir ayat-ayat mutasyabihat.

Didalam surat Al anfal ayat 17, Allah berfirman :

Maka bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.

Pada ayat ini, apakah Rasulullah dianggap seperti Al Hallaj atau wihdatul wujud?. Jika ditanya: “Wahai Rasulullah, siapakah yang membunuh dan melempar panah ketika engkau membidik panah?”. Kira-kira apa jawaban Beliau ….?? Kalau Beliau menjawab sesuai dengan ayat diatas, pastilah Beliau akan mengatakan, “Allahlah yang melempat panahku …..”

Masihkah Anda menuduh saya wihdatul wujud, yang Anda sendiri tidak paham persoalan ini?.

Tuduhan bahwa Abu Sangkan Menganut Sinkretisme

Mungkin Abu Umamah kurang paham arti sinkretisme, sehingga saya dianggap menganut faham ini. Tidak ada satupun ajaran tersebut dalam buku saya. Justru saya hanya prihatin melihat kemunduran umat islam selama berabad-abad.

Mengapa orang-orang Eropa mampu menemukan sains modern dan mampu menciptakan teknologi canggih?. Ternyata mereka perduli terhadap fenomena alam yang luar biasa, yang memberikan pelajaran bagi manusia. Padahal mereka tidak mengenal Al qur’an. Namun mereka telah memanfaatkan kemampuan berfikirnya dan akal sehatnya untuk meneliti gejala alam yang terhampar luas. Mulai dari energy listrik, nuklir, mineral, bahan kimia, ilmu aerodinamika, biologi, psikologi, neurologi, astronomi, mesin diesel, kapal selam dll. Hampir semuanya dikuasai oleh mereka. Sementara umat Islam hanya diam tidak turut terlibat mengamati sumber alam yang penuh manfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Tanpa disadari hasil penemuan mereka dimanfaatkan oleh umat Islam seluruh dunia, termasuk negara-negara Arab, meminta bantuan Amerika untuk pengeboran minyak, mengolahnya, bahkan menjualkannya.

Padahal Al qur’an telah memberikan wacana berfikir kepada kita, agar tidak ketinggalan dalam ilmu pengetahuan. Sebagaimana disebutkan ayat-ayat berikut ini :

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu terdapat pelajaran bagimu, Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perut (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah,yang mudah ditelan bagi orang yang hendak meminumnya (QS.An Nahl,16:66)

Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata. Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (QS. Qaaf,50:7-8)

Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang beriman. Dari pada penciptaan Kamu dan binatang-binatang yang melata yang bersebar (dimuka bumi) terdapat ayat-ayat (tanda-tanda) kekuasaan Allah bagi kaum yang yakin. Dn pada pergantian malam dan siang serta hujan yang diturunkan Allah dari langit sebagai rezeki lalu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya dengan air hujan itu,dan pda perkisaran angin terdapat pula ayat-ayat (tanda-tanda) kekuasaan Allah bagi mereka yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah, Kami memebacakannya kepadamu sebenarnya,maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan ayat-ayat-Nya. (QS. Al Jastsiyah,45: 3-6)

Dalam ayat-ayat diatas terdapat kandungan peringatan untuk umat Islam. Disamping mereka diharuskan membaca Al qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, namun diperintahkan pula untuk memikirkan ciptaan Allah sebagai pelajaran. Namun fakta yang terjadi sangat ironis, justru orang-orang kafirlah yang menguasai ilmu pengetahuan, seperti peternakan, geologi, geofisika vulkanologi dan lain sebagainya. Apakah saya disebut sebagai penganut sikretisme kalau saya memahami ilmu-ilmu tersebut? Bukankah saudara Umamah tidak sadar, bahwa ilmu-ilmu tersebut adalah ciptaan Allah dan kita diperintahkan untuk mengambil sebagai pelajaran?.

Ulasan-ulasan yang tidak difahami oleh Abu Umamah dalam bukunya Mengenal Lebih Dekat dengan Abu Sangkan halaman 84.

Sangat kelihatan Abu Umamah tidak membaca dengan baik tulisan-tulisan saya;

Padahal uraian saya adalah sebuah kesimpulan dari hadist-hadist nabi yang menyuruh kita shalat dengan serius dan thumaninah dan tidak terburu-buru. Selanjutnya dipraktekkan sebagaimana saya tulis dalam buku saya halaman 58-59.

Padahal semua yang dipraktekkan adalah tuntunan Nabi yang saya jadikan metodologi. Seperti berdiri thumaninah, rukuk, sujud dan tahiyyat. Semuanya dilakukan dengan tenang dan rendah hati. Pertanyaanya adalah :

Apakah dilarang berdiri sehingga tulang-tulang dan sendi-sendi dalam tubuh kita rileks dan tidak tegang ketika shalat ?

Apakah dilarang pikiran hening didalam shalat? Mengapa tidak tidak menyalahkan orang yang pikirannya melamun dan ngelatur kemana-mana ketika shalat? Bukankah itu lebih bid’ah, karena pikiran Rasulullah tidak pernah melamun dalam shalat.

Apakah dilarang ketika hati kita hadir dalam shalat, sementara banyak orang shalat tetapi hatinya tidak hadir?

Apakah dilarang memperbagus shalat dan wudhu’ seseorang dengan dibarengi hatinya ingat kepada Allah, sementara banyak orang berwudhu yang tidak menghayati wudhu’nya sehingga tidak ubahnya mencuci muka biasa?.

Apakah salah orang shalat harus dilakukan dengan kesadaran ?

Sementara Abu Umamah menyalahkan persoalan-persoalan ini.

Kesimpulan dari uraian Umamah, bisa diketahui bahwa dia shalat namun pikirannya tidak tenang, karena ia melarang orang shalat pikirannya hening. Dan shalatnya tidak dilakukan dengan tenang dan tumakninah, karena ia melarang melatih tulang-tulang kembali pada tempatnya. Justru dialah yang yang tidak menjalankan sunnah Nabi, karena yang saya tulis adalah sunnah Nabi dalam mengajarkan shalat kepada para sahabat. Tolong pelajari lagi hadist-hadist yang memerintahkan untuk sadar dalam shalat, membetulkan tulang-tulangnya sehingga lurus dan tenang didalam setiap gerakan rakaat maupun bacaannya.

Semua hadist yang menyangkut shalat khusyu’ sudah saya himpun dan saya susun menjadi pelajaran bagi yang shalatnya terburu-buru dan pikirannya melayang-layang, dan ini perlu dilatih. Bagi yang tidak mau latihan jangan mengusik orang yang sedang belajar. Melarang orang belajar shalat sama halnya orang-orang Yahudi yang menghalang-halangi shalat, hanya saja dikemas dengan perkataan “bid’ah”, agar tidak terlihat menghalangi orang-orang yang sedang belajar shalat. Kalau memang Abu Umamah orang Islam yang benar, pasti dia akan mendatangi rumah saya dan berdiskusi dengan baik dan penuh akrab dan shilaturrami. Dengan diawali dengan shalat berjamaah tentunya. Inilah akhlak Islam yang sebenarnya yang banyak dilakukan kaum sufi yang bersih hatinya.

Abu Umamah mengaku Ahli Sunnah Waljama’ah ?

Saya belum percaya seratus persen kalau Abu Umamah adalah ahli sunnah wal jamaah. Mengapa demikian? Karena yang saya tahu jumlah hadist Rasulullah dikeluarkan dan diriwayatkan berjumlah puluhan ribu bahkan jutaan jumlahnya. Itupun masih tergantung kedudukan keshahihannya. Dan berapa jumlah hadist yang shahih, hasan, mutawatir, masyhur, muan’an, mudhayyaq, musalsal, ahad, gharib, munqati’? Sudahkan Anda mampu menjalankan seluruh sunnah Nabi? Belum lagi jumlah ayat-ayat dalam Al qur’an, sudahkan Anda mampu menjalankan semuanya?. Apa hukumnya yang tidak menjalankan Islam secara kaafah?. Masihkan Anda berani mengatakan ahli sunnah wal jamaah? Anda tidak ada bedanya dengan saya yang hanya menjalankan sebagian sunnah nabi saja. Anda masih menggunakan uang yang ada gambar orangnya, yang menurut hadist hukumnya haram. Sementara, Anda sering melarang orang melukis makhluk hidup. Hal ini sama halnya orang-orang Saudi yang tidak konsisten, mereka menempelkan lukisan-lukisan Raja Fahd, Raja Abdullah, Raja Suud di setiap hotel di Saudi Arabiayah.

Apa hukumnya orang yang menyesatkan orang lain, sementara saya telah bersyahadat setiap shalat, menjalankan shalat lima waktu, berzakat, berpuasa di bulan Ramadhan, menunaikan ibadah haji ke Baitullah ?

Saya memaafkan Abu Umamah karena dia belum kenal dengan saya, walaupun dia mengaku dalam tema bukunya “Mengenal lebih dekat dengan Abu Sangkan”. Namun dia tidak kenal dengan saya, apalagi berdiskusi dengan baik dan terhomat.

Saya khawatir terhadap Abu Umamah, dia tidak bisa membedakan Islam dan kultur Arab yang keras. Islam adalah akhlak dan lemah lembut, apalagi dalam berdakwah. Al qur’an menyuruh berdakwah dengan cara yang sangat lembut dan mauidhatil hasanah … cara ini dilakukan oleh ulama’ Jawa (Wali Songo) sehingga ummat Hindu tertarik mempelajari Islam, walaupun masih belum sempurna. Mungkin kalau Anda ingin merasakan bagaimana sulitnya berdakwah, cobalah berdakwah di wilayah Hindu, seperti di Bali. Kalau Anda jujur, pasti Anda akan mengatakan Wali Songo itu hebat dan cerdas.
Ulama Jawa, ketika melihat umat Hindu menjalankan ritual kematian mengadakan upacara selama tujuh hari, mereka tidak langsung merubah kultur dan kebiasaan agama sebelumnya. Apalagi langsung menhardik dengan kata-kata kafir sesat dan bid’ah. Mereka mengisi hari-hari tersebut dengan bertahlil dan bertahmid. Maksudnya mengarahkan tauhid mereka agar tidak menyekutukan Tuhan. Lihatlah situs-situs masjid Menara Kudus yang berbentuk seperti candi, pintu gerbang masjid seperti seperti pura Hindu, atap mesjid dibuat seperti pagoda. Mereka tidak merubah pakaian menjadi pakaian Saudi Arabiayah atau Pakistan, india, tetapi tetap menggunakan sarung seperti yang dipakai orang Hindu pergi sembahyang ke pura.


Hal ini terjadi terhadap fiqhuddakwah Partai Keadilan Sejahtera. Mereka melakukan dakwah melalui dan mengisi peluang dunia politik sebagai kendaraan dakwah mereka di DPR. Mereka bertujuan menegakkan syariah, namun dinilai salah oleh beberapa kelompok Islam, karena melalui cara sekuler, yaitu Trias Polica.

Kesimpulan dari penjelasan saya diatas, bukanlah akhir jawaban saya. Karena masih banyak lagi yang bisa saya sampaikan jika diperlukan. Dan saya sangat senang jika bisa berjumpa langsung dengan Abu Umamah demi keadilan dan menjalankan sunnah Al qur’an, yaitu bermusyawarah dengan baik. Dan sekali lagi Abu Umamah bukanlah Ahli Sunnah Waljamaah yang murni, tapi hanya sekedarnya saja. Kalau berjumpa dia, saya bisa tunjukkan hadist mana yang tidak dijalankan oleh dia, dan hadist mana yang telah dilanggar oleh dia.
     
Hayya ‘alash shalah hayya ‘alal falah …..


Wassalam

ABU SANGKAN

Jl. Kemangsari IV/5, Jatibening

Bekasi.

22 comments:

  1. Subhanallah jazakallau khoir atas penjelasannya.

    ReplyDelete
  2. Teruskan berdakwah bpk Abu Sangkan...Saya Faham.

    ReplyDelete
  3. Saya pernah mengikuti acara praktek sholat khusu yang dipandu oleh para anggota madinah, memang terasa sekali rilek dan nikmatnya sholat seperti itu walaupun harus mencoba terus mencoba untuk mencari dan mendapatkan khusu.
    Untuk bp.Abu Sangkan teruskan dakwahnya untuk tetap dijalan Allah.

    ReplyDelete
  4. semoga sgala kebaikan slalu dipelihara & dirahmati allah... subhanallah walhamdulillah walailahaillallah wallahu akbar...

    shalallahu 'alaa muhammad

    ReplyDelete
  5. orang-orang yang ikhlas berjuang di jalan Allah dengan ikhlas, semoga kelak akan berkumpulan bersama para nabi-nabi,syuhadak wa sholihin. amin.

    ReplyDelete
  6. Penjelasan seperti ini memang diperlukan, jika tidak akan ada umat yang dibingungkan oleh dua pendapat yang berbeda ini.

    ReplyDelete
  7. kita harus terus belajar dan belajar...

    ReplyDelete
  8. Memang manusia diwajibkan selalu untuk belajar, apalagi belajar melatih kesabaran itu sangat sulit bila tidak dilandasi dengan keikhlasan.
    Semoga pak Abu Sangkan selalu diberi kesabaran dalam menghadapi orang yang kontra produktif.

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah...dengan penejelasan pak ustadz, saya baru paham. Jika tidak, saya pun ikut bodohnya sama Abu Umammah....tetap berjuang Ustadz Abu

    ReplyDelete
  10. Boleh belajar langsung di rumah bapak tidak......?
    sambil mengisi masa liburan sekolah.?

    ReplyDelete
  11. Lokasi
    Jl.Kemang Sari IV No.5 Jatibening Baru Pondok Gede, Bekasi,
    Telepon
    2184978836
    Situs Web
    http://www.shalatcenter.com

    ReplyDelete
  12. firman Mappangara24 February 2012 20:53

    Subhanallah...
    Semoga Allah SWT tetap dalam bimbingan-Nya, membuka hati kita menuju cahaya-Nya. InsyaAllah..dengan cahaya-Nya menjadikan kita ikhlas dan sabar.
    Dengan cahaya-Nya pula, Bapak Ust. Abu Sangkan menjawab fitnah Abu Umamah denga bijak. saya ingin katakan, bahwa Abu Umamah memiliki perbedaan pemahaman dengan Bapak Ust. Abu Sangkan karena aku percaya bahwa Abu umamah sendiri belum sampai pada pengalaman "cahaya-Nya".Ia belum merasakan bimbingan-Nya menuju bagaimana Cahaya-Nya menjadikan kita menerima dan menjalankan ibadah (perintah-Nya) dengan tenang, ikhlas,dan sabar serta nikmat tiada taranya sampai hati itu tidak ingin lekas berpisah dengan-Nya.
    Saya berharap Bapak Ust. Abu Sangkan tetap teguh dalam syiarnya dan menghindari perdebatan yang tak pantas. biarlah dia menjalankan apa yang diyakininya dan kita menjalankan apa yang kita yakini, dan sesungguhnya keyakinan itu hanya satu bahwa kebenaran hanya pada Allah SWT dan Allah SWT itu sendiri.

    ReplyDelete
  13. alhamdulillah....nice post. Mohon izin kopas di blog ya....

    http://www.ceritasufi00.blogspot.com/

    ReplyDelete
  14. nggak usah dilayani si umamah gendeng itu pak abu sangkan,,,membuang-buang waktu dan energi saja...orang yg sok pintar dan sok serba tau itu..kawannya setan...

    ReplyDelete
  15. trim tas penjelasanya....wallohua'lam,moga kita dlm petunjukNYA yg benar...

    ReplyDelete
  16. Rasulullah SAW bersabada :
    Mantasabaha bikoumin fahuwa mingkum.

    Barang siapa meniru-niru suatu kaum..., maka dia termasuk kaum tersebut..

    Wallahu'alam....

    Islam adalah Islam , & tradisi adalah tradisi...., dan Islam pun mempunyai tradisi tersendiri yang beraspekkan sosial dan kemasyarakatan tanpa dicampuri dan dikotori oleh bid'ah dan kesyirikan...,
    Maka janganlah kita sekali-kali mencampur adukkan yang hakh dengan yang batil..., dan janganlah sekali-kali menampakkan yang batil dan menyembunyikan yang hak sedangkan engkau mengetahuinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Assamualaikum Wr. Wb.

      ALLAH SWT Engkaulah Sang Maha
      hamba adalah sangat sangat sangat batil, tidak ada kebaikan sedikitpun pada diri hamba. Batilnya hamba sebenarnya sangat besar dari apa yang hamba ketahui, beritahukanlah ya ALLAH kebatilan hamba yang sebenarnya, karena hamba merindukan untuk berjumpa dengan MU ya ALLAH... karena Engkau adalah Sang Maha.... , karena hamba percaya hanya dengan kerendahan hati, kehinaan dan kebodohan diri dihadapan MU yang akhirnya ke fana'an diri di hadapan MU yang bisa menghantarkan berjumpa dengan MU

      Delete
  17. Rasulullah SAW bersabda :
    “Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah (Al-Qur'an) dan sebaik-baik ajaran adalah ajaran Rasulullah. Dan sesungguhnya sejelek-jelek perkara adalah sesuatu yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya sesuatu yang baru diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867) , dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

    Wallahu'alam...

    Islam datang sudah dalam keadaan sempurna..., kita tidak perlu menambah-nambahkan suatu ajaran di dalam Agama Islam / syari'at Islam..., akan tetapi jikalau begitu maka sama artinya kita telah menuduh Rasulullah SAW telah mengkhianati Risalah / menyembunyikan Risalah. ataupun mengurangi ajaran syari'at Islam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Assalamualaikum wr. wb.
      ya islam sudah sempurna dan Rasulullah paling sempurna menjalankannya, nah .... bagaimana dengan kita, apakah sudah "merasa" sempurna menjalankannya ???!!!, hemat saya orang yang masih mau belajarlah adalah yang paling baik, sampai batas optimal mana dia belajar islam ketika dia mati , walaupun bukan yang terbaik tetapi batas itulah yang dia mampu..... Baiknya sekarang bagi orang yang sudah "merasa" sempurna menjalankan islam, jangan menyalahkan orang yang masih tekun belajar menjalankan islam.....

      Delete
  18. Dalam penyampaian suatau ajaran / metode pengajaran dalam Agama ini harus dilandasi dengan dalil yang jelas dan mendukung baik dari Al-Qur'an dan Hadits Rasulillah SAW, dan juga harus mengikutsertakan para ulama dari ahli fiqih maupun ahli hadits dalam menentukan kesepakan apakah metode itu sesuai atau tidak...., agar hal tersebut tidak menyimpang jauh dari apa yang telah disyari'atkan di dalam Islam.

    Ingat akhi..., jika metode pengajaran antum itu benar... maka antum juga mendapatkan pahala kebaikan dari orang-orang yang telah mengamalkan apa yang antum ajarkan dan akan terus mengalir hingga hari kiamat..., akan tetapi jikalau metode pengajaran itu salah...., maka dosa-dosa orang-orang yang telah mengamalkan ajaran akhi yang salah itu juga berlaku untuk akhi sendiri tergantung berapa banyak orang yang mengamalkan dan berapa sering orang-orang itu mengamalkannya.

    Wallahu'alam...

    Semoga kita semua senantiasa mendapatkan rahmat dan hidayah-Nya. Amin.

    ReplyDelete
  19. Saya pribadi yg orang awam bisa memahami isi dari buku Abu Sangkan,,
    Karena niat saya baik,yaitu 'belajar', jika niat saat membacanya saja sudah lain,,ya bginilah. Semoga ini semua tidak menimbulkan perpecahan.. Amin Ya Allah.
    Trimakasih utk bukunya,yg mmbuat saya mjd lbh mnikmati saat'' shalat saya,mmbuat saya mrasa nyaman saat'' shlt,krn tau tiap'' arti dalam gerakan shlat. Subhanallah,,,

    ReplyDelete
  20. Ibarat membangun Masjid abu sangkan memperkokoh pilar pilar sekaligus memperindah, sedang Abu umamah kerjanya hanya mondar mandir ngurusin matrial

    ReplyDelete

Wilujeng Sumping..Sumangga Linggih Disaung Kuring